Apa
sih Gaya Belajar itu? Definisi gampangnya, gaya belajar adalah
cara-cara yang digunakan untuk mempermudah proses belajar. Jadi, anak
akan menggunakan cara-cara tertentu untuk membantunya menangkap dan
mengerti suatu materi pelajaran. Anda perlu memperhatikan bagaimana gaya
belajar anak anda supaya mereka mudah mengerti suatu materi pelajaran
dan anda bisa mengembangkan potensi belajar mereka dengan lebih optimal.[1]
Sementara menurut Hyman bahwa gaya belajar adalah cara yang konsisten
yang dilakakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau
informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan persoalan. Gaya
belajar ini berkaitan erat dengan pribadi seseorang yang tentu dipengaruhi oleh pendidikan dan riwayat perkembangannya.[2]
Ada tiga macam gaya belajar yang biasanya dipakai anak dan ini dapat
anda gunakan sebagai patokan untuk mengenali gaya belajar anak dan
membantunya belajar[3] :
1. Belajar dengan mendengar (Auditory Learner)
Gaya belajar seperti ini memanfaatkan kemampuan pendengaran untuk
mempermudah proses belajar. Ciri-ciri anak yang mempunyai gaya belajar
seperti ini adalah:
- Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dikelas maupun dalam kelompok.
- Mengenal banyak lagu di iklan atau di televisi dan mampu menirukannya dengan tepat.
- Kurang suka tugas membaca.
- Kurang baik dalam tugas mengarang atau menulis
- Kurang memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya.
2. Belajar sambil melihat (visual Learner)
Anak dengan gaya belajar ini menggunakan indera penglihatannya untuk membantunya balajar. Ciri-cirinya:
- Selalu melihat bibir guru yang berbicara
- Saat petunjuk mengenai sesuatu harus dilakukan, biasanya dia akan melihat teman-temannya dulu baru bergerak.
- Kurang menyukai untuk bicara didepan kelompok dan kurang suka mendengarkan orang berbicara.
- Cenderung menggunakan gerak tubuh untuk mengungkapkan sesuatu (untuk menggantikan kata atu mengekspresikan)
- kurang bisa mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
- Dapat duduk tenang di situasi yang ramai dan bising tanpa merasa terganggu.
3. Belajar sambil bergerak (Kinesthetic Learner)
Untuk mempermudah proses belajarnya, anak menggunakan fisiknya sebagai alat belajar yang optimal. Karakteristiknya:
- Suka menyentuh sesuatu yang dijumpainya.
- Tidak suka berdiam diri.
- Suka mengerjakan segala sesuatu dengan tangan.
- Memiliki koordinasi tubuh yang baik.
- Suka menggunakan obyek yang nyata sebagai alat bantu belajar.
- Sulit mempelajari hal-hal yang abstrak, seperti simbol matematika atau peta.
- Cenderung
agak tertinggal dengan teman sekelasnya karena ada ketidakcocokan
antara gaya belajarnya dengan metode pengajaran yang lazim digunakan.
Setiap anak atau orang mempunyai cara belajar sendiri. Ada anak yang
senang belajar membutuhkan suasana yang terang dan tidak mau diganggu
suara sedikitpun, tetapi ada juga anak belajar justru harus ditemani
sebuah radio atau sambil mendengarkan lagu-lagu. Menurut Dunn
kecenderungan orang untuk memiliki gaya belajar tertentu disebut dengan
gaya belajar (Learning Style).[4]
Kemampuan kognitif adalah kemampuan seseorang dalam berpikir terutama untuk memecahkan masalah. Anak yang bergaya belajar mandiri (field independent) adalah
anak yang berusaha membebaskan diri dari lingkungannya pada saat dia
belajar atau pada saat dia membuat keputusan tentang sesuatu hal. Anak
yang bergaya belajar bergantung (field dependent) adalah anak yang mudah
terpengaruh oleh lingkungan pada saat belajar.[5]
Tipe-Tipe Gaya Belajar
a. Gaya belajar mandiri (Field Independent)
Gaya belajar mandiri tidak dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan
dimasa lampau. Anak berdiri sendiri dan mempunyai otonomi atas
tindakannya, tidak peduli akan nama-nama orang lain. Kurang mementingkan
hubungan sosial, tidak memerlukan petunjuk yang terperinci, dapat
menerima kritik dengan perbaikan.
b. Gaya belajar bergantung (Field dependent)
Gaya belajar bergantung adalah dipengaruhi oleh lingkungan, banyak
bergantung pada pendidikan sewaktu kecil, dididik untuk selalu
memperhatikan orang lain, mengingat hal-hal dalam konteks sosial dengan
luas, memerlukan petunjuk yang lebih banyak untuk memahami sesuatu lebih
peka akan kritik dan perlu mendapat dorongan.[6]
Didalam mencapai tujuan siswa yang memiliki gaya belajar mandiri
didorong oleh faktor-faktor yang bersifat menantang dan melihat kegunaan
tugas yang sedang dilakukan. Siswa yang memiliki gaya belajar mandiri
cenderung ingin meningkatkan rasa ingin tahunya. Pendekatan komunikatif
sangat memberikan peluang kepada siswa dengan berbagai kegiatan
komunikasi dan permainan yang menarik. Sementara pada gaya belajar
bergantung (field dependent) mereka harus banyak dibantu oleh guru atau
teman-temannya dalam bentuk kerja kelompok. Untuk memberi dorongan
kearah yang lebih mandiri siswa memiliki gaya belajar bergantung
memerlukan metode pengajaran yang sesuai agar hasil belajar yang
diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan.
Elemen Dasar Gaya Belajar
1. Elemen dasar gaya belajar mandiri (Field Independent)
Gaya belajar ini mengacu ke cara siswa dalam belajar. Menurut Woolfolk
cara yang konsisten yang dilakukan oleh seseorang mencakup informasi,
cara mengingat, berfikir, mengolah informasi dan memecahkan
persoalannya.[7]
Gaya belajar mandiri bisa membedakan bagaian-bagian dari keseluruhan,
berkosentrasi pada sesuatu hal (seperti membaca buku didalam stasiun
kereta api yang berisik), menganalisa variabel-variabel terpisah tanpa
terpengaruh dengan variabel lingkungan. Orang yang lebih dominan
padagaya belajar mandiri umumnya cenderung lebih mandiri, kompetitif,
dan percaya diri. Sementara orang yang bergaya belajar bergantung (field
dependent) umunya cenderung lebih bersosialisasi, cenderung mengambil
identifikasi diri dari orang-orang disekitarnya, dan biasanya lebih
empati dan perseptif pada perasaan dan pikiran lainnya.[8]
2. Elemen dasar gaya belajar bergantung (Field Dependent)
Gaya belajar bergantung mempunyai dampak positif yaitu anda bisa
mendapatkan gambaran secara keseluruhan, pandangan yang lebih luas,
konfigurasi suatu masalah atau gagasan, ataukejadian secara umum.[9] Gaya belajar ini menurut Dunn dipengaruhi oleh 4 faktor dan 18 elemen dasar[10] . Faktor-faktor dan elemen-elemen dasar tersebut adalah:
a. Lingkungan langsung (Immediate Environment). Yaitu cara belajar yang dipengaruhi oleh suara/bunyi, cahaya, suhu udara dan pengaturan tempat belajar.
b. Emosional. Yaitu cara belajar yang dipengaruhi oleh adanya motivasi, persisten, rasa tanggung jawab, dan struktur penyelesaian tugas.
c. Sosiologis.
Yaitu cara belajar yang dipengaruhi oleh kelompok teman sebaya (peers),
mandiri, berpasangan, team, bantuan orang dewasa dan variasi.
d. Fisik . Yaitu cara belajar yang dipengaruhi oleh kemampuan persepsi, makanan/minuman, waktu belajar, dan berpindah-pindah (mobility).
D. Kesimpulan
Dari
apa yang telah diuraikan pada pembahasan tentang gaya dan strategi
belajar, dimana gaya belajar adalah cara-cara yang digunakan untuk
mempermudah proses belajar. Jadi, anak akan menggunakan cara-cara
tertentu untuk membantunya menangkap dan mengerti suatu materi
pelajaran, yang diantaranya ada tiga macam gaya belajar yaitu (1)
Belajar dengan mendengar (Auditory Learner), (2) Belajar sambil melihat
(visual Learner), dan (3) Belajar sambil bergerak (Kinesthetic Learner).
Sementara strategi merupakan alat untuk melibatkan dan mengarahkan diri
sendiri agar ada peningkatan kemampuan secara komunikatif yang bisa
berupa kegiatan-kegiatan khusus, tingkah laku, langkah-langkah, dan
tekhnik-tekhnik yang dilakukan oleh para pelajar untuk meningkatkan
kemampuan berbahasa Inggris.
Daftar Pustaka
Brown, H. Douglas (1980), Principles of Language Learning and Teaching . Printice-Hall, Inc. 1980
Dunn, Rita & Dunn, Kenneth (1994), Teaching Student Through Their Individual Learning Style , A Practical Approach. USA: Allyn & Bacon. 1994
Hyman, Ronald (1987), Contemporary Issues in Educational Psychology . Singapore: Mc Graw-Hill Book Company.
http://www.waspada . co.id/serba_serbi/pendidikan/artikel.
Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses belajar dan mengajar . Jakarta: Bina Aksara. 1982
Woolfolk, Anita E (1990), Educational Psychology , New Jersey: Prentice-Hall. 1990
[1] http://www.waspada . co.id/serba_serbi/pendidikan/artikel.
[2] Ronald Hyman, Contemporary Issues in Educational Psychology . Singapore: Mc Graw-Hill Book Company, 1987. hlm 180.
[3] http://www.waspada , op. cit .
[4] Rita Dunn & Kenneth Dunn, Teaching Student Through Their Individual Learning Style , A Practical Approach. USA: Allyn & Bacon. 1994. hlm 24
[5] Witkin dalam Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses belajar dan mengajar . Jakarta: Bina Aksara. 1982. hlm 97
[6] Witkin .loc. cit ,. hlm 95-96
[7] Anita E. Woolfolk, Educational Psychology , New Jersey: Prentice-Hall. 1990. hlm. 215
[8] H. Douglas Brown, Principles of Language Learning and Teaching . Printice-Hall, Inc. 1980. hlm. 91.
[9] Ibid.
[10] Rita Dunn , op.cit .,. hlm 25-28.
The Microlinguistics Contrastive Analysis Between Javanese Language Of Banyumasan And English
The Morphological analysis on the Javanese Language of Banyumasan
Error Analysis
Conversation Analysis on Deixis
Classroom Action Research
Quantum Teaching
Theory of Translation
Tes dan Evaluasi
Faktor Sosiokultural pada Pembelajaran Bahasa
Kumpulan Analisa Cerpen
Language Acquisition
Learning Style
Effective Public Speaking Skills
No comments:
Post a Comment